Welcome to Myown Blog

Wish this written is to be useful for everyone
Jesus Christ blesses you

Selasa, 20 Desember 2011

PIROKLASTIK


abuvulkanik.jpg
              Abu Vulkanik
Abu vulkanik yang sering disebut juga pasir vulkanik atau jatuhan piroklastik adalah bahan material vulkanik yang disemburkan ke udara saat terjadi suatu letusan gunung berapi, terdiri dari batuan berukuran besar sampai berukuran kecil (halus). Batuan yang berukuran besar (bongkahan batu sampai kerikil) biasanya jatuh disekitar kawah hingga radius 5 – 7 km dari kawah. Sedangkan abu vulkanik yang berukuran halus dapat jatuh pada jarak mencapai ratusan kilometer bahkan ribuan kilometer dari kawah karena dapat terpengaruh oleh adanya hembusan angin.Radius pengendapan abu vulkanik yang tergolong jauh ini disebabkan oleh ukurannya yang kecil yakni 2mm- 1/256mm sehingga abu vulkanik tersebut melayang di udara bercampur dengan udara bebas yang kemudian terhirup bersamaan dengan oksigen yang hendak dihirup oleh manusia.Ukuran partikelnya yang kecil itu juga membuat gaya gravitasi bumi tidak mampu untuk menarik partikel abu vulkanik itu untuk langsung mengendap di daratan yang dekat ditambah gerakan udara yang sentrifugal sehingga membuat radius pengendapan abu vulkanik tersebut jauh dari pusat letusan suatu gunung berapi. Sebagai contoh letusan G. Krakatau tahun 1883 dapat mengitari bumi berhari-hari. Demikian juga letusan G. Galunggung pada tahun 1982 dapat mencapai Australia.
Partikel abu vulkanik sangat kecil sehingga mudah tertiup angin hingga ribuan kilometer. Yang paling berpotensi merusak tubuh adalah partikel abu terkecil yang mencapai kurang dari 1/100 milimeter. Ini berbahaya karena mudah menembus masker kain dan masuk ke paru-paru.
Seseorang penderita bronkhitis, emfisema dan asma disarankan mengurangi aktivitas di luar ruang karena paparan abu vulkanik bisa memperparah gangguan kesehatan. Jika mengalami iritasi atau sakit di tenggorokan dan paru-paru, pilek, atau mata gatal, sebaiknya segera kembali rumah dan membatasi kegiataan di luar rumah.Selain partikel berbahaya, abu vulkanik juga berpotensi mengandung gas belerang dioksida dalam kadar rendah. Itulah mengapa ketika mulai mencium aroma belerang, sangat disarankan segera menjauh dari kawasan tersebut.
Abu Vulkanik merupakan jenis material endapan piroklastik yang tidak terkonsolidasi yang dihasilkan oleh pelemparan dari magma akibat erupsi yang eksplosif namun ada juga abu vulkanik yang terjadi oleh akibat pergesekan pada waktu erupsi gunung berapi
Berdasarkan mekanisme pembentukannya abu vulkanik termasuk kedalam jatuhan piroklastik karena abu vulkanik dibawa dan diendapkan oleh medium udara dan terbentuk setelah material hasil letusan dikeluarkan dari kawah.Abu Vulkanik termasuk ke dalam material tipe II karena setelah terlempar dari pusat vulkanik lalu diendapkan di daratan yang kering dengan media gas yang dihasilkan dari magma sendiri yang merupakan aliran abu yang merupakan onggokan aliran litifikasi dan membentuk batuan fragmental.
                                        Bom Gunung Api
              Batuan yang tersembul yang kelihatan pada gambar merupakan salah satu batuan piroklastik yang tingginya sekitar 1,5 meter yang dihasilkan oleh proses lisenifikasi bahan-bahan lepas yang dilemparkan dari pusat volkanis selama erupsi yang bersifat eksplosif.Batuan tersebut merupakan batuan piroklastik yang berasal dari erupsi Gunung Merapi pada beberapa waktu yang lewat yang secara sekilas berukuran kecil namun oleh akibat terkubur oleh batuan yang berukuran kerakal,kerikil serta pasir yag banyak sehingga ukuran batuan yang sebenarnya menjadi tidak diketahui.Batuan tersebut merupakan Bom yang merupakan gumpalan-gumpalan lava yang mempunyai ukuran lebih besar dari 64 mm yang tentunya memiliki berat yang lebih besar dari 100 kg.Suatu saat ketika tingkat erosi yang dilakukan air hujan ataupun aliran permukaan yang tinggi maka ukuran yang sebenarnya dari batuan tersebut akan diketahui.

                Batu tersebut disebut Batu Gajah Bengkak yang berukuran 4x7 meter yang  dijumpai di desa Pagerjurang Cangkringan. Batuan tersebut berjarak sekitar  10 km dari puncak Gunung .Ada 2 kemungkinan mengapa batuan tersebut ada pada posisi tersebut.Hal pertama mungkin diakibatkan oleh terlalu kuatnya letusan yang dilakukan oleh Gunung Merapi .Faktor yang menyebabkan kuatnya suatu letusan ialah tekanan,jenis magma serta kedalaman dari dapur magma gunung api tersebut.Dengan demikian disimpulkan bahwa tekanan yang ada di lubang kepundan tersebut tinggi serta memiliki tingkat kedalaman yang tinggi.Tekanan suatu gunung api dikontrol oleh tipe magma yang ada di dapur magma.Jika tekanan gas di gunung merapi tinggi maka dapat disimpulkan bahwa magma di gunung api tersebut dominan asam yang merupakan jenis dari vulkanisme letusan.Gunung Merapi menurut Escher 1952 merupakan tipe gunung api yang memiliki tekanan yang rendah yang komposisi magmanya kental serta kedalamannya yang dangkal .Berarti pada saat letusan ini terjadi magma yang dominan ialah asam yang sedikit bercampur basa karena Gunung Merapi memiliki kandungan magma yang intermediet yang merupakan vulkanisme campuran .Oleh karena magma Gunung Merapi yang saat itu dominan asam maka tekanan gas yang ada di dalam lubang kepundan meninggi yang kemudian meletus dan memuntahkan material piroklastik yang besar tersebut sejauh 10 km dari pusat letusan.Kemungkinan kedua ialah Batu Gajah Bengkak terbawa oleh aliran piroklastik (nuee ardentees) oleh akibat material piroklastik yang ada di lereng gunung api bersamaan dengan air hujan yang kemudian terguling mengikuti aliran lava dingin tersebut. Yang kemudian terendapkan seluruh tubuh Batu Gajah Bengkak tersebut bersamaan dengan material yang ada di sekitarnya tadi  kemudian oleh akibat curah air hujan yang tinggi material yang menutupi tubuh batuan tersebutpun tererosi sehingga tubuh Batu Gajah Bengkak tersebutpun kelihatan secara menyeluruh.
Contoh batuan piroklastik yaitu batu apung. Batu apung ialah istilah tekstural untuk batuan vulkanik yang merupakan lava berbuih terpadatkan yang tersusun atas piroklastik kaca yang amat mikrovesikular dengan dinding batuan beku gunung berapi ekstrusif yang bergelembung, amat tipis dan tembus cahaya. Batu apung adalah produk umum letusan gunung (pembentukan Plinius dann ignimbrit) dan umumnya membentuk zona-zona di bagian atas lava silikat. Batu apung bervariasi dalam hal kepadatannya menurut ketebalan bahan padat antargelombang; banyak sampel yang mengapung di air. Setelah letusan Gunung Krakatau, berton-ton batu apung hanyut ke Lautan Teduh lebih dari 20 tahun, beserta batang pohon yang mengapung dengannya. Batu apung banyak digunakan untuk membuat beton ringan atau yang kepadatannya rendah dan insulatif. Juga digunakan sebagai bahan penggosok, seperti pelitur, penghapus pensil, pengelupas kosmetik, dll.







  Batu Apung




Tipe-tipe material Piroklastik :
a. Tipe 1
Batuan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat volkanik jatuh ke darat yang kemudian kering akibat pengaruh medium udara, kemudian mengalami litifikasi membentuk batuan fragmental.Jadi jatuhan piroklastik ini belum mengalami pengangkutan.

b.Tipe 2
Bahan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat volkanik terangkut ke dalam tempat pengendapannya yaitu di daratan yang kering dengan media gas yang dihasilkan dari magma sendiri yang merupakan aliran abu yang merupakan onggokan aliran litifikasi dan membentuk batuan fragmental.

c. Tipe 3
Bahan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat erupsi yang jatuh ada suatu tubuh perairan (baik darat maupun laut) yang tenang arusnya sangat kecil, onggokan aliran litifikasi dan membentuk batuan fragmental.
d.      Tipe 4
Bahan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat erupsi yang jatuh pada suatu tubuh perairan yang arusnya aktif (bergerak). Sebelum mengalami litifikasi mengalami rewarking dan dapat bercampur dengan batuan lain yang dihasilkan akan mempunyai struktur sediment basa.
e. Tipe  5
Bahan piroklastik yang telah jatuh sebelum mengalami pelapukan kemudian diangkut dan diendapkan ditempat lain dengan media air. Hasilnya batuan sedimen dengan asal-usulnya adalah bahan-bahan piroklastik,dengan struktur sediment biasa.
f. Tipe 6
Bahan piroklastik yang telah jatuh sudah mengalami proses-proses litifikasi, kemudian diendapkan kembali ke tempat yang lain. Batuan yang dihasilkan adalah batuan sediment dengan propenan piroklastik.

II.2. Tekstur Batuan Piroklastik
Klasifikasi tekstur pada batuan piroklastik tidak jauh berbeda dengan tekstur batuan beku plutonik. Yang  khas pada batuan piroklastik adalah bentuk pada batuan yang runcing yang tajam, yang biasa dikenal sebagai glass hard atau gelas runcing tajam serta adanya batu apung (pumica).

II.3. Struktur Batuan Piroklastik
Seperti halnya struktur batuan beku plutonik , pada batuan piroklastik juga dijumpai struktur seperti skoriaan, vesikuler, serta amygdaloidal.

II.4. Jenis Endapan Piroklastik Tak Terkonsolidasi
a.       Lapili
Lapili berasal bahasa latin lapillus, yang berarti  nama untuk hasil erupsi eksplosif gunung api yang berukuruan 2mm – 64mm. Selain dari fragmen batuan , kadang-kadang terdiri dari mineral – mineral augti, olivine, plagioklas.
b.      Debu Gunung Api
Debu gunung api adalah merupakan batuan piroklastik yang berukuran 2mm- 1/256mm yang dihasilkan oleh pelemparan dari magma akibat erupsi eksplosif. Namun ada juga debu gunung berapi yang terjadi karena proses penggesekan pada waktu erupsi gunung api. Debu gunung api masih dalam keadaan belum terkonsolidasi,
c.       Bom Gunung Api
Bom adalah merupakan gumpalan-gumpalan lava yang mempunyai ukuran lebih besar dari 64mm. Beberapa bomb mempunyai ukuran yang sangat besar. Sebagai contoh bomb yang berdiameter 5 meter dengan berat 200kg dengan hembusan setinggi 600 meter selama erupsi. Misalnya, di gunung api Asama, Jepang pada tahun 1935.
d.      Block Gunung Api
Block Gunung Api merupakan batuan piroklastik yang dihasilkan oleh erupsi eksplosif dari fragmen batuan yang sudah memadat lebih dulu dengan ukuran lebih besar dari 64 mm. Block-block ini selalu menyudut bentuknya atau equidimensional.


II.5. Tipe Endapan Piroklastik
a.       Endapan Aliran ( Pyroclastic Flow)
Endapan piroklastik aliran yaitu merupakan jenis material hasil langsung dari pusat erupsi, kemudian teronggokan di suatu tempat. Hal ini meliputi  hot avalanche,  glowing avalanche, lava collapse ,hot ashes avalanche.
Aliran umumnya berlangsung pada suhu tinggi antara 500°-650°C dan temperaturnya cenderung menurun selama pengalirannya. Penyebaran pada bentuk endapan sangat dipengaruhi oleh morfologi, sebab sifat-sifat endapan tersebut adalah menutup dan mengisi cekungan. Bagian bawah menampakkan morfologi asal dan bagian atasnya datar.
b.      Endapan Surge (Pyroclastic Surge)
Endapan piroklsatik surge merupakan suatu awan campuran dari bahan padat dan gas (uap air) yang mempunyai rapat massa rendah dan bergerak dengan kecepatan tinggi secara trubulensi di atas permukaan. Pada umumnya endapan piroklastik surge ini mempunyai pemilahan yang baik, berbutir halus dan berlapis baik. Endapan ini mempunyai strutur pengendapan primer seperti laminasi dan perlapisan bergelombang hingga planar. Yang paling khas dari endapan ini adalah mempunyai struktur silang siur, melensa dan bersudaut kecil . Endapan surge umumnya kaya akan keratan batuan kristal.
c.       Endapan Jatuhan (Pyroclastic Fall)
Endapan piroklastik jatuhan yaitu merupakan onggokan piroklastik yang diendapkan melalui udara . Endapan ini umumnya akan berlapis baik, dan pada lapisannya akan memperlihatkan struktur butiran bersusun. Endapan ini meliputi aglomerat, breksi, piroklastik, tuff dan lapili.







DAFTAR PUSTAKA





Tidak ada komentar: